write as therapy


Wujudnya cinta

Posted in trully me by d-a-jeng on the February 18, 2009

Aku terlalu sering bicara tentang cinta. tentang sesuatu yang aku rasakan. yang aku sendiri bahkan tak pernah sadar aku belum pernah melihat wujudnya. Wujud cinta. Wujudnya yang sebenarnya.

aku pernah bertanya hal yang sama pada 2 mantan pasanganku. “Bagaimana supaya aku tahu kau mencintaiku?”

Pasanganku ketika aku berusia 17 tahun, menjawab, “aku selalu mengantarkanmu berangkat dan pulang sekolah, ke tempat les, dan jalan2″

Pasanganku ketika aku berusia 20 tahun menjawab, “pada perempuan lain, selalu mereka yang memulai sms,tapi denganmu,selalu aku yang memulai.”

Dan tak pernah aku tahu jeruk mandarin begitu nikmat rasanya, dimakan beberapa menit setelah menerima komplain dari pasien, dikupaskan dan ditawarkan dengan kalimat “jeruknya manis,kamu sudah makan?”

Dan tak pernah ada orang yang bertingkah begitu manis untukku,sekalipun orang yang bersamaku 2 tahun dan setahun,

Yang bersedia berbagi jaket dan jas hujan, dan membiarkan dirinya kehujannan karena jas hujan yang dibawanya cuma satu. Yang melakukanya tanpa berbasa-basi menawariku,yang melakukannya dengan langkah sigap,aku laki laki yang bisa kauandalkan..

Bagaimana bisa kau mencintai dengan cinta yang tak pernah ku lhat wujudnya sebelumnya. Cinta yang ku agung agungkan.

Cinta yang hanya dengan wujudnya saja, membuat kita merasa dicintai.

Aku menyerah,pada usahaku menggantikanmu dengan yang lain..

Posted in me and Singo.. by d-a-jeng on the February 4, 2009

Bukan aku tak mencoba,bukan dengan setengah hati mencoba. Tapi memang tak bisa. Sudah kukatakan berulang kali padamu bukan? Juga pada orang orang yang menyayangiku,yang berkata bahwa melupakanmu adalah pilihan paling baik.

Bukan aku tak mau,bulan mei tahun lalu sudah kucoba, dan kemarin pun aku mencoba tak menolak ajakan seseorang untuk mengantarkanku pulang. tak tahukah kau,yang kupikirkan disepanjang perjalanan adalah apa yang akan kau pikirkan jika kau tahu. Aku merasa bersalah,padamu juga padanya.

Bukan karena tak ada yang mau. Bukan karena tak ada yang menganggapku cantik. Karena yang kupikirkan adalah pendapatmu tentangku. Semua kalimatmu bak sabda pandita ratu.

Bukan karena tak ada kesmpatan tapi hatiku yang tak membuka kesempatan. Bukan karena aku tak mampu. Aku benar benar tak bisa. Semua selalu berbanding denganmu. Dan di hatiku,kau tetap yang utama.

Aku tak bisa,dan memang tak bisa,aku sudah mencoba,sekuat tenaga..

Aku tak bisa,

Dia tak bisa,

Tidak ada yang bisa,

menggantikanmu Hun…